Selasa, 27 Oktober 2020

Masalahmu adalah Masalahku

 

 Photo by : Pinterest

Semua orang pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, dengan masalah yang berbeda-beda. Tidak mungkin manusia hidup tanpa memiliki masalah, karena masalah akan membuat hidup seseorang tampak berwarna dan terkesan. Bagaimana jika seseorang senang dengan yang namanya masalah? Itulah aku, Karena masalah adalah hidupku.

 

Aku sangat suka dengan masalah, bahkan kuselalu mencari masalah. Apa yang dimaksud dengan aku yang suka mencari masalah? Maksudnya bukan aku yang mencari masalah atau kesalahan untuk diriku. Melainkan aku yang suka mencari dan menemukan masalah orang  lain untuk kuselesaikan dengan pengetahuan yang kumiliki. Aku suka masuk dalam masalah orang dan itu adalah hobi yang kujalani.

 

Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas, aku banyak mengenal teman-temanku baik di dalam kelas bahkan di luar kelas. Banyak dari mereka menjadi sahabat baikku, aku sangat menyangi mereka semua lebih dari diriku sendiri. Aku tidak akan membiarkan air mata  membasahi pipi salah satu dari sahabatku.

 

Aku siswa yang aktif di sekolah, banyak kegiatan kujalani. Mulai dari anggota Palang Merah Remaja, menjadi ketua kelas, menjadi bendahara, dan menjadi berberapa panitia kegiatan sekolah. Semua aku jalani tanpa mengeluh, dari hal itu banyak yang mengenalku dan banyak dari mereka ingin bersahabat. Aku sering diperebutkan oleh teman-temanku untuk menjadi anggota tugas di kelas, terkadang aku suka binggung sendiri jika harus memilih diantara mereka.

 

Aku hanya sekedar pembaca buku, pencari materi dari sebuah pembelajaran. Tidak jarang aku menemukan sebuah tulisan mengenai kehidupan orang. Dari tulisan tersebut biasanya kujadikan bahan untuk orang yang datang padaku. Tulisan tersebut berasal dari buku psikologi, sosiologi,  sejarah, sastra, hukum, dan agama, dari buku tersebut sering kali kusangkutpautkan mengenai kehidupan masalah seseorang.

 

 

Berawal dari kejadian yang membuatku menitihkan air mata, aku melihat seseorang wanita yang kena bullying di sekolahku. Sosoknya sangat jauh berbeda dengan wanita normal biasanya, aku menghentikan kejadian bullying dan membawanya pergi dari tempat tersebut. Wanita yang baik, hanya saja gerak-geriknya yang sangat jauh dari sikap pada umumnya. Pertemuan itu membuatku ingin selalu melindungi dan tidak ingin orang lain menyakitinya. Dia pun senang dengan perlakuanku padanya dan ia menuruti apa yang kujelaskan. Aku dan dia pun menjadi sahabat dekat, “Sahabat, ajari aku mengenal dunia kehidupan, kuingin merubah segala kekuranganku”. kalimat pertama yang membuat air mata membasahi pipiku.

 

Banyak hal yang ia tanyakan, ketika aku menjelaskan apa yang di tanyakan, dia mengikuti dari yang kupaparkan padanya. Aku banyak mengajari segala bidang etika,  dan sikapnya, mulai dari berjalan yang benar, berbicara dengan baik, sikap makan yang baik, dan banyak hal lain yang kuajari padanya. Seiring berjalannya waktu, ada perubahan darinya, aku sangat senang sekali. Di sekolahku banyak yang tidak menyukainya, tapi aku sangat bangga memiliki sosok sahabat sepertinya. Aku tidak malu sedikit pun, walau banyak teman yang menegurku mengenai kedekatanku padanya. Aku tidak pernah sedikit pun menghiraukan perkataan teman-temanku.  

 

Ketika ada pengambilan nilai akhir semester, ibu dari sahabatku mencari keberadanku. Awalnya aku sangat takut, menggapa mencariku. Bertemu dan dibawalah aku ke tempat yang jauh dari keramaian, aku semakin takut saja. Kaget bukan main ibu dari sahabatku menyodorkan berberapa lembaran uang padaku, sambil mengucapkan terima kasih. Aku sangat bingung sekali, mengapa ibu dari sahabatku memberikan uang. Ternyata sahabatku menceritakan tentangku kepada ibunya.  Ibu dari sahabatku berterima kasih banyak, bahwa anaknya atau sahabatku sudah berubah dari berbagai sikap dan etikanya.

 

Sebenarnya tidak hanya masalah dari orang-orang terdekatku saja yang kuselesaikan, melainkan masalah orang yang baru kukenal. Aku tidak pernah melihat siapa orang tersebut, kaya atau miskin,  cakep atau buruk, tua atau muda, kuhanya melihat sikapnya. Apakah sikapnya baik atau tidak, jika sikap orang baik, maka aku akan lebih terbuka pada siapa pun itu.

 

Aku selalu terjun pada masalah mereka, dari bahagianya hinga dukanya. Masalah tidak selalu berkaitan dengan duka, bahkan bahagia bisa termasuk masalah. Ketika seseorang menjelaskan sebuah masalahnya, aku mampu merasakan masalah tersebut, seolah masuk dalam ceritanya. Semua masalah kehidupan dari seseorang dapat kurasakan, seolah aku melihat kejadian-kejadian itu.

 

Bahagia dengan masalah dan sangat menyukai masalah itulah aku. Tidak suka membiarkan orang lain terdiam dengan masalahnya sendiri, berusaha masuk ke dalam masalah akan membuat hidupku terasa berguna buat orang lain. Aku tidak menginginkan hidup sia-sia hanya karena hidup tanpa memikirkan orang lain.

 

Makna yang bisa diambil menurutku, jadilah diri sendiri, jika hidupmu bisa berguna untuk orang banyak, jujur itu membuat hidup kita bahagia. Dengan adanya kita untuk mereka, maka mereka akan ada untuk kita juga. Menyelesaikan masalah pada orang lain adalah jalan dalam hidupku, terus mewarnai hingga akhir hayatku. 

 

Selasa, 13 Oktober 2020

BERWISATA DI MARUNDA PULO

 

Kawasan permukiman Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, yang merupakan pendukung destinasi wisata yang ada di Jakarta. Terdapat Museum Kebaharian Jakarta Rumah Si Pitung, Masjid Al-Alam, dan Pantai Marunda.

 

Marunda adalah kelurahan di kecamatan CilincingJakarta UtaraIndonesia. Kelurahan ini berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, Cilincing di sebelah barat, Kabupaten Bekasi di sebelah timur dan Rorotan di sebelah selatan. Di kelurahan ini terdapat Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) dan Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda. Menurut kisah turun-temurun di sinilah tempat Si Pitung, jagoan Betawi tinggal.

 
 

Museum Kebaharian Jakarta Rumah Si Pitung

Photo by : Nur Alam

Masyarakat mengenal dengan sebutan Rumah Si Pitung, bangunan panggung  yang bercorak suku Bugis dengan warna merah kecokelatan. Berlokasi di kawasan Marunda, Jakarta Utara, Si Pitung yang  merupakan pendekar yang berasal dari Betawi, beliau hidup sejak abad ke-19 M. 


Tidak diketahui kapan persisnya Rumah Si Pitung didirikan. Di perkirakan bangunan tersebut dibangun pada abad ke-20. Pada tahun 2010 rumah Si Pitung direnovasi kembali oleh pemerintah dengan anggaran Rp. 3 miliar. Renovasi yang dilakukan adalah meninggikan bangunan setinggi 4 meter agar terhindar dari air laut yang pasang, mengganti lantai aslinya yang tadinya terbuat dari bilah-bilah bambu untuk kemudian diganti dengan kayu. Dua tahun kemudian dilakukan renovasi kembali oleh Dinas Kebudayaan Jakarta Utara. Renovasi dengan anggaran Rp 2,1 miliar itu hanya dilakukan pada bangunan lain, halaman serta gerbang, pagar yang mengelilingi Rumah Si Pitung. Meskipun renovasi dilakukan beberapa kali, model asli bangunan tetap dipertahankan. 

 

Sabtu dan minggu yang merupakan akhir pekan, biasanya banyak masyarakat yang berkunjung ke tempat tersebut dan dimanfaatkan untuk mengahabiskan waktu. Tidak hanya pengunjung dalam kota saja yang datang ke Rumah Si Pitung, melainkan banyak dari luar kota juga yang datang. Pada akhir pekanlah yang sangat ramai pengunjung, suasana yang sangat nyaman untuk bersantai bersama keluarga, dengan hembusan angin yang terasa dikulit. Ada pengunjung yang bersandar ditiang-tiang bangunan, tertidur dibawah bangunan pannggung Rumah Si Pitung, disana juga terdapat penjual Kerak Telor makanan khas Betawi. Riang-gembira anak kecil yang berlarian bersama temannya.

 

Rumah Si Pitung dibuka setiap hari pada pukul 08.00-17.00. Harga tiket masuknya bervariasi, yakni Rp 1.500 untuk rombongan pelajar hingga Rp 5.000 untuk dewasa perseorangan. Selain mengagumi arsitektur Rumah Si Pitung dan mempelajari sejarahnya, pengunjung juga bisa menikmati berbagai kebudayaan Betawi seperti tarian, silat, dan kuliner di Rumah Si Pitung. 

 

 

Masjid Al Alam Marunda

 

Photo by : Nur Alam 

Masjid yang menyimpan banyak misteri dalam pembangunanya, dari informasi pengurus Masjid Al-Alam, bahwa halnya masjid tersebut sudah berdiri kurang lebih pada abad ke-16 M. Menggapa dikatakan kurang lebih, tidak diketahui catatan sejarah masjid tersebut dibangun. 

 

Menjadi misteri mendasar Masjid Al-Alam, bahwa halnya masjid tersebut dibangun hanya satu malam dan tidak diketahui siapa saja yang ikut dalam pembangunan masjid tersebut. 

 

Pada umumnya masyarakat mengenal dengan Masjid Al-Alam, karena, masjid yang dibuat dalam satu malam (sumber cerita turun-temurun dalam pembangunan masjid). Masjid ini juga dikenal dengan sebutan Masjid Auliya Marunda Allah atau Masjid Agung Auliya Marunda. Wali Allah, karena pada abad ke-16 banyak para Aulia Allah yang menyebarkan agama Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. 

 

Di bagian belakang masjid terdapat makam keramat kakek Jongker, bekas serdadu VOC yang akhirnya dihukum mati Belanda karena membantu tentara Islam, tidak hanya itu terdapat  banyak makam warga yang memenuhi bagian belakang masjid.  

 

Pada Masjid Al-Alam juga terdapat sebuah sumur tua yang diperkirkan sudah ada ketika dalam pengerjaan masjid, yang digunakan untuk berwudu. Hingga saaat ini sumur tersebut masih berfungsi, walaupun sudah dibangun tempat wudu pada masjid biasanya tetap saja masih banyak masyarakat yang menggunakan sumur tersebut. Konon sumur tersebut memiliki 3 varian rasa yaitu, tawar, asin, dan  payau. Sehingga pada masjid ini memiliki keunikan tersendiri, yang dianggap barokah oleh banyak orang.

 

Walaupun pada hari-hari biasa tidak terlalu ramai dengan pengunjung, ada saja para peziarah yang berasal dari berberapa daerah yang ada di lndonesia datang untuk berziarah. Jika hari-hari besar Islam di masjid tersebut selalu ada acara-acara tertentu sehingga banyak para peziarah yang ikut serta dalam acara trsebut. Suasana yang sangat damai ketika memasuki kawasan masjid, ada orang yang sedang melaksanakan solat sunah, membaca Alquran, dan ada juga pengunjung yang hanya duduk-duduk saja. 

 

 

Pantai Marunda

Photo by : Nur Alam

Sebelum tahun 1958 pasir di Pantai Marunda berwarna putih, pada tahun tersebut banyak penambang pasir yang mengeruk pasir yang digunakan untuk pembangunan jalan. Hingga keadaannya sangat ironis, walaupun begitu objek wisata ini tetap menarik saat itu.

 

Pada tahun 1970-an pantai ini menjadi ikon yang unik bagi wilayah Bekasi dan sekitarnya karena masih asri dan bersih sehingga cukup popular untuk dijadikan kawasan wisata warga yang pas hingga dijadikan lokasi syuting film-film jaman dahulu. 

 

Meskipun dulu menjadi kawasan wisata yang popular saat ini kondisi Pantai Marunda terbilang cukup memprihatinkan. Banyaknya sampah, pemukiman padat penduduk, berkurang nya jumlah pohon menyebabkan pantai ini terlihat seperti tempat pembuangan sampah yang gersang. Akibat ulah para manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak sadar akan penting nya menjaga ekosistem laut dan darat demi kelangsungan hidup semua makhluk hidup serta warisan peninggalan sejarah yang mengisahkan masa lalu. 

 

Untuk Mengantisipasi terhadap rob pasang surut air laut., kemudian juga untuk antisipasi kenaikan muka air laut. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun tanggul pantai National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Bahkan tanggul ini juga mampu untuk mencegah penurunan muka tanah. Penyelesaian tanggul tersebut kelar pada akhir Desember 2018. 

 

Walaupun tidak seindah dahulu, pantai ini tetap menjadi destinasi wisata masyarakat sekitar untuk menghabiskan akhir pekan. Jika cuaca mendukung, menunggu sunset di pinggir pantai merupakan kejadian yang sangat indah dengan hembusan angin laut, yang dapat memberikan kesan tersendiri.